Friday, December 30, 2011
Selamat Tahun Baru 2012 (Kilas Balik 2011)
Kita sekarang telah berada di penghujung tahun 2011, tahun dimana dapat menjadi tahun yang suram bagi perekomian dunia. Betapa tidak ditahun shio kelinci ini Pasar di cemaskan oleh kondisi pasar yang tak menentun. Krisis dan Resesi melanda Negera Negara yang menjadi pusat keuangan Dunia. Bursa keuangan dunia disuguhi oleh demonstrasi besar besaran dari orang orang yang merasa dirugikan. Mereka menyuarakan aksi Anti Kapitalis dan penutupan Bursa keuangan , berawal Ameika, Eropa Inggris dan menuju daratan Asia.
Pertemuan pertemuan pemimpin dunia berulang kali dilakukan sebagai usaha dann solusi untuk mencari jalan keluar atas apa yang menjadi kecemasan Pasar Dunia. Cara lain yang dilakukan dalah adanya aksi dan Langkah koordinasi yang coba dilakukan oleh Federal Reserve bersama 5 bank sentral utama lainnya sebagai upaya menjamin ketersediaan dana bagi sektor perbankan yang tengah terpuruk akibat masalah hutang telah memberikan angin segar pada pasar, Pernyataan bersama yang dikeluarkan hari Rabu 30 Npember 2011 bulan lalu, , Federal Reserve bersama European Central Bank, Bank of England, Bank of Japan, Bank of Canada dan Swiss National Bank menyatakan telah sepakat untuk untuk menurunkan biaya swap Dollar sebesar 50 basis poin, yang efektif berlaku mulai 5 Desember 2011.
Namun ternyata usaha usaha tersebut belum menjadi solusi penuh dalam menanggulangi permasalahan utama ini. Inti dari masalah ini adalah Krisis Zona Eropa yang masih menjadi fokus pasar ditahun 2011 ini. Menjelang akhirtahun Masalah Uni Eropa bukannya mereda tapi justru semakin parah. Rembetan atas masalah ini ternyata dirasakan dan menjalar kenegara Negara tetangga dan ekonomi Negara Negara lain. Bisa jadi Uni Eropa adalah Beang kerok dari ini Semua.
Jika diruntut masalah Ekonomi Eropa meliputi, Yield Obligasi. Naiknya Yield obligasi menjadi momok yang menakutkan. Menjelang akhir tahun ini, Imbal hasil obligasi negara Eropa kembali melonjak sebagai efek dari peringatan lembaga pemeringkat rating S&P. Rating kredit 15 negara divonis dalam pengamatan negatif. Hanya dua negara yang steril dari observasi S&P, yakni Siprus dan Yunani. Kedua negara sudah berada dalam daftar rekomendasi negatif, sedangkan Yunani bahkan telah menerima predikat rating CC atau berisiko tinggi default.
Sementara diakhir bulan desember ini ,Terpantau sejauh ini yield obligasi Italia untuk tenor 10-tahun merosot dibawah 7%, ke level 6.98%. Sementara spread yield antara Italia dan Jerman menyempit sekitar 20 basis poin, dimana yield obligasi Jerman stabil di level 1.95%.Adapun yield obligasi Spanyol turun ke level 5.43%, Belgia melemah ke 4.28%, dan Prancis anjlok ke 3.08%, sedangkan obligasi Portugal masih cukup tinggi di level 12.53%, sama halnya dengan obligasi Irlandia di level 8.55%.Yield Obligasi Yunani masih merupakan yang paling tinggi di level 31.94%, namun sudah menurun 40 basis poin dari level puncaknya.Penurunan yield – yield obligasi ini telah memberika kelegaan pada para investor meskipun masih bersifat sementara.
Desfist Eropa, Menteri ekonomi Jerman, Philipp Roesler, telah ajukan usulan untuk merubah konstitusi Uni Eropa demi atasi krisis utang, termasuk pembatasan defisit 2% GDP, menurut laporan surat kabar terkemuka di Jerman. Harian Die Welt menulis proposal telah telah dikirim ke kantor Kanselir Angela Merkel untuk dipertimbangkan. Konstitusi Uni Eropa hanya terapkan rasio defisit 3% GDP namun sebagian besar anggota zona-euro telah melanggar batas tersebut pada waktu tertentu. Roesler, yang juga pimpinan partai Free Democrat, juga inginkan sanksi lebih keras bagi negara yang melanggar aturan defisit. “Penundaan pembayaran dari dana struktural Eropa dapat menjadi pilihan untuk menghukum negara,” tulis harian Die Welt. "Ini diperlukan untuk jalankan kebijakan anggaran yang solid, lebih cepat dan efektif." Kanselir Merkel telah serukan perubahan konstitusi Uni Eropa demi tingkatkan integrasi ekonomi dan selesaikan krisis utang.
Downgrade Lembaga Rating Peringkat Utang Eropa, lembaga pemeringkat Standard & Poor's (S&P)melaporkan adanya potensi penurunan peringkat dari sebagian besar negara-negara Eropa, yang tergabung dalam zona euro yang terdiri dari 15 negara. Bahkan pihak Standard & Poor's mengumumkan telah menempatkan peringkat negara Jerman dan Prancis serta sejumlah negara Eropa lainnya pada level 'Credit Watch Negative', ini sebuah langkah yang mengarah kepada penurunan peringkat. Peringatan Standard & Poor’s tentang resikodowngrade yang mengancam rating kredit beberapa negara Uni Eropa telah memaksa Euro memperpanjang pelemahan terhadap Dollar AS Lembaga pemeringkat S&P telah memutuskan untuk menempatkan peringkat hutang jangka panjang 15 negara zona Euro dalam pengawasan, yang biasanya mengindikasikan adanya resiko downgrade dalam waktu 3 bulan berikutnya.Rating kredit ‘AAA’ Jerman dan Peranci pun tidak lepas dari pengawasan S&P, meskipun ke-2 negara tersebut telah mengumumkan wacana penerapan disiplin fiskal
konflik dengan Luar kawasan Eropa . Angela Merkel mengklaim bahwa Jerman dan Prancis sepakat membentuk integrasi fiskal antar anggota euro-zone. "Kita sudah tidak bicara soal kesatuan fiskal, tetapi sudah masuk langkah konkrit," ujar Merkel. Kedua negara sudah berulangkali menyerukan amandemen pakta Uni Eropa dalam berbagai event. Dengan begitu, petinggi kawasan bisa merancang aturan fiskal yang diterapkan sama rata pada semua anggota. Pakta baru nantinya mewajibkan seluruh negara untuk meninjau kembali komponen anggaran nasional serta mengikuti aturan. Di dalamnya juga akan dicantumkan sanksi bagi pemerintah yang melanggar disiplin fiskal. Namun usaha ini Dihalangi Inggris dengan Mengancam memblok Langkah Mengubah Perjanjian Uni Eropa Perdana Menteri Inggris David Cameron mengancam menghalangi langkah dari Perancis-Jerman untuk mengubah perjanjian Uni Eropa yang bertujuan membantu menyelamatkan euro. Setelah diskusi dengan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, Cameron mengatakan ia tidak yakin bahwa perubahan perjanjian diperlukan untuk memperkuat zona Eropa, yang mana Inggris tidak termasuk di dalamnya.
Ketika ditanya apakah ECB harus ikuti kebijakan pencetakan uang, yang dilakukan Inggris dan AS, dalam bentuk program pembeli obligasi pemerintah dalam skala besar yang dikenal sebagai pelonggaran kuantitatif (QE), Draghi katakan: "Saya tidak melihat bukti QE dapat pacu pertumbuhan ekonomi yang cemerlang di kedua negara tersebut. Konstitusi Eropa juga melarang bank sentral untuk membiayai surat utang pemerintah.” Draghi tegaskan diperlukan lebih dari sekedar pelonggaran kebijakan moneter untuk pulihkan kepercayaan pasar terhadap zona-euro, dan serukan pemerintah untuk jalankan hasil pertemuan Eropa. Draghi melihat integrasi fiskal sebagai terobosan. "Saya percaya pemerintah sekarang berada di jalur yang benar," tutur Draghi. “Kebijakan yang telah disepakati dapat membuat keuangan publik lebih kredibel."
Kekurangan modal perbankan Eropa. Bank terbesar ke dua Jerman setelah Deutsche Bank, yaitu Commerzbank, sudah dipaksa untuk menambah rasio modal oleh European Banking Authority (EBA) beberpa waktu lalu. Perseroan butuh suntikan 5,3 miliar euro ($6,9 miliar) yang harus terpenuhi pada medio 2012 nanti. Jika dikalkulasi, angka tersebut setara dengan 80% nilai pasar Commerzbank. Penerbitan instrumen hutang dan ekuitas baru bukan lagi menjadi opsi utama, mengingat investor saat ini sedang antipati dengan sektor perbankan. Tidak heran jika merebak spekulasi bahwa Commerzbank tengah bernegosiasi dengan menteri keuangan untuk meminta bailout.
***
"Pemimpin Eropa tidak punya kemampuan untuk menjaga halamannya dan membiarkan krisis meluas ke kawasan lain," kecam Gordhan pada sebuah wawancara dengan BBC. Sang menkeu memang layak untuk geram, mengingat krisis sudah membuat investor lari dari negaranya. Arus likuiditas asing ke Afrika terus menurun karena pemodal takut dengan prospek investasinya. Krisis Eropa menggiring pemilik modal untuk mengalihkan uang ke instrumen seperti emas atau tunai. Penarikan uang secara cepat memicu volatilitas pada nilai tukar valuta domestik, seperti yang dialami Nigeria. Apalagi banyak negara Afrika sedang menggalakkan pembangunan, dengan memakai dana investasi asing. Dalam pernyataannya, bank sentral Kenya juga melihat risiko nilai tukar dari kisruh hutang Eropa.
(sumber : http://www.seputarforex.com)
(sumber : http://www.seputarforex.com)
Namun semoga hal-hal yang terjadi selama 2011 dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi tahun selanjutnya. Dan semoga di tahun 2012 nanti kekisruhan yang terjadi di 2011 dapat segera terselesaikan. Aamiin.
Untuk itu saya selaku Admin Forex Merah Putih ingin mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU dan semoga di tahun yang baru ini kehidupan kita dapat menjadi lebih baik!!!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Mengapa Forex Time
FXTM merupakan mitra bisnis Anda yang handal
No comments:
Post a Comment